BELAJAR, AKTIVITAS, KARAKTER CERDAS DAN KREATIVITAS

Hampir semua kegiatan manusia yang meliputi kecakapan, keterampilan, kegemaran, kebiasaan, pengetahuan, dan si kap manusia terbentuk dan berkembang kare na adanya belajar.Belajar bisa terjadi di ma na-mana, baik itu di rumah, masyarakat, kan tor, pabrik bahkan bisa terjadi di jalan dan tentu saja di lembaga pendidikan formal dan non formal (Sardiman, 2000: 20)

Makna belajar menurut beberapa ahli yang dikutip oleh Sardiman yaitu:

1. Cronbach

Learning is shown by a change in behavior as a result of experience.

2. Harold Spears

Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.

3. Geoch

Learning is a change in performance as a result of practice.

(Sardiman, 2000: 20)

Menurut Sardiman belajar dalam arti lu as yaitu kegiatan psiko-fisik menuju ke per kembangan pribadi seutuhnya, sedangkan da lam arti sempit belajar adalah usaha pengu asaan materi ilmu pengetahuan yang merupa kan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. (Sardiman, 2000: 20). Relevan dengan pengertian di atas, bela jar adalah berubah, artinya suatu peru bahan pada individu-individu yang belajar. Peru bahan tidak hanya berkaitan dengan penam bahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berben tuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengerti an, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri. Perubahan ini bisa dilakukan dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meni ru, dan sebagainya.

Menurut Oemar Hamalik menge mukakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. (Oemar Hamalik, 2003: 154). Kriteria keberhasilan dalam be lajar diantaranya ditandai dengan ter jadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh (Nana Sudjana, 2007: 8) bahwa:

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti berubah pe ngetahuan, pemahaman, sikap, dan ting kah laku, keterampilan, kecakapan, ke biasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang bela jar. Slameto mengemukakan bahwa belajar a dalah suatu proses usaha yang dilakukan sese orang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2007: 9).

Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:

  1. Perubahan terjadi secara sadar.
  2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
  3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
  4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
  5. Perubahan dalam belajar bertujuan terarah.
  6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Dari definisi belajar tersebut dapat disim pulkan bahwa belajar adalah suatu perjalanan yang dilakukan seseorang dengan tujuan un tuk memperoleh sesuatu hal dimana terjadi perubahan tingkah laku yang disebabkan ka rena adanya pengalaman. Ada beberapa ciri-ciri dari pengertian belajar, yaitu:

  1. Belajar merupakan suatu perubahan ting kah laku yang terjadi melalui interaksi an tara individu dengan lingkungan nya kare na Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan penga laman, dalam arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan
  2. kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar. di dalam interaksi inilah terjadi se rangkaian pengalaman belajar.
  3. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar.
  4. Perubahan yang disebabkan oleh belajar harus relatif lama, dalam arti perubahan tersebut tidak hanya bersifat sementara tetapi dalam jangka waktu yang lama.
  5. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.

Aktivitas Belajar

Dalam proses pembelajaran, keaktif an peserta didik merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan oleh guru se hingga proses pembelajaran yang ditempuh benar-benar memperoleh hasil yang optimal. Dengan bekerja siswa memperoleh pengeta huan, pemahaman, dan keterampilan serta pe rilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai. Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas, sebetulnya sudah banyak melibatkan akademik aktivitas siswa di dalam kelas. Sis wa sudah banyak dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencer na pelajaran yang diberikan oleh guru. Serta dimungkinkan siswa aktif bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum jelas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas berasal dari kata kerja a kademik aktif yang berarti giat, rajin, selalu berusaha bekerja atau belajar dengan sung guh-sungguh supaya mendapat prestasi yang gemilang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007: 12). Pengertian lain dikemukakan oleh Wijaya yaitu “Keterlibatan intelektual dan emosional siswa dalam kegiatan belajar me ngajar, asimilasi (menyerap) dan akomodasi (menyesuaikan) kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan, serta pengalaman langsung dalam pembentukan sikap dan nilai” (Wijaya, 2007: 12).

Kadar keaktifan dalam belajar secara efektif menurut Tabrani Rusyan, (1994: 128-129) dapat dinyatakan dalam bentuk:

1)      Hasil belajar peserta didik pada umum nya hanya sampai tingkat peng gunaan. Siswa biasanya belajar dengan meng hafal saja, apabila telah hafal siswa mera sa cukup.

2)      Padahal dalam belajar, hasil be lajar tidak hanya dinyatakan dalam pe nguasaan saja tetapi juga perlu adanya penggunaan dan penilaian.

3)      Sumber belajar yang digunakan umum nya terbatas pada guru dan satu dua buku bacaan. Hal ini perlu dipertanyakan apa kah siswa mencatat penje lasan dari guru dengan efektif dan apa kah satu-dua buku itu dikuasainya dengan baik. Jika tidak, aktivitas belajar siswa kurang optimal ka rena miskinnya sumber belajar.

4)      Guru dalam belajar kurang merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal. Se bagai contoh pada umumnya guru menga jar dengan menggunakan metode cera mah dan tanya jawab. Jarang sekali diada kan diskusi dan diberikan tugas-tugas yang memadai. Hal inipun tidak jarang kurang ditunjang oleh penugasan dan ke terampilan guru dalam menggunakan me tode-metode tersebut.

Rosseau menyatakan bahwa dalam belajar segala pengetahuan harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, de ngan bekerja sendiri, dengan fasilitas yang di ciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis (Rosseau dalam Sardiman A.M, 2000: 96). Hal ini menunjukkan bahwa setiap oleh rang yang bekerja harus aktif sendiri, tanpa a danya aktivitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi. Lebih lanjut Montessori me negaskan bahwa anak-anak itu memiliki tena ga-tenaga untuk berkembang sendiri, mem bentuk sendiri, dan pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagai mana perkembangan anak didiknya (Montess ori dalam Sardiman A.M, 2000: 96).

Jika kegiatan belajar mengajar bagi siswa diorientasikan pada keterlibatan intelektual, emosional, fisik dan mental maka Paul B. Diedrich menggolongkan aktivitas belajar siswa sebagai berikut:

1)      Visual activities, seperti: membaca, mem perhatikan gambar, demonstrasi, perco baan, pekerjaan orang lain dan sebagai nya

2)      Oral activities, seperti: menyatakan, me rumuskan, bertanya, memberi saran, me ngeluarkan pendapat, mengadakan in terview, diskusi, interupsi dan sebagai nya.

3)      Listening activities, seperti mendengar kan uraian, percakapan, diskusi, music, pidato dan sebagainya.

4)      Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin dan sebagainya.

5)      Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola dan sebagainya.

6)      Motor activities, seperti melakukan per cobaan, membuat konstruksi, model, me reparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya.

7)      Mental activities, seperti menanggap, mengingat, memecahkan soal, mengana lisis, melihat hubungan, mengambil ke putusan dan sebagainya.

8)      Emosional activities, seperti menaruh mi nat, merasa bosan, gembira, berani, te nang, gugup dan sebagainya (Paul B. Diedrich dalam Sardiman A.M, 2000: 101).

Berdasarkan pengertian aktivitas belajar di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan belajar yang harus dilaksanakan dengan giat, rajin, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh melibatkan fisik maupun mental secara optimal yang meliputi Visual activities, Oral activities, Listening activities, Writing activities, Drawing activities, Motor activities, Mental activities, Emosional activities supaya mendapat prestasi yang gemilang.

Aktivitas belajar seperti di atas dapat dialami seorang siswa di sekolah maupun pada waktu belajar di rumah. Bentuk aktivitas belajar yang lain adalah diskusi di antara teman, mengerjakan pe kerjaan rumah yang diberikan oleh guru, dan lain sebagainya dimana semua aktivitas itu bertujuan untuk memberikan peran aktif ke pada siswa dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, besar harapannya seorang siswa yang benar-benar aktif akan memperoleh hasil belajar yang baik.

 

Aktivitas Belajar IPA

Dari pengertian aktivitas belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar IPA adalah kegiatan belajar IPA yang me libatkan kemampuan intelektual, emosional, fisik dan mental, baik melalui kegiatan me ngalami, menganalisis, berbuat maupun pem bentukan sikap secara terpadu supaya terca pai prestasi belajar IPA yang baik.

 

Berpikir Kreatif

Menurut Iskandar (2009: 88) definisi ke mampuan berpikir kreatif dilakukan dengan menggunakan pemikiran dalam mendapat ide-ide baru, kemungkinan yang baru, cipta an yang baru berdasarkan kepada keaslian da lam penghasilannya. Ia dapat diberikan da lam bentuk ide yang nyata ataupun abstrak. Ciri

 

Karakter Cerdas dan Kreatif

Terdapat 10 (Sepuluh) ciri-ciri karakter cerdas dan kreatif, yaitu : (1) Imajinatif. (2) Mempunyai prakarsa. (3) Mempunyai minat luas. (4) Mandiri dalam berpikir. (5) Meli hat(selalu ingin tahu tentang segala hal). (6) Senang berpeluang. (7) Penuh energi. (8) Percaya diri. (9) Bersedia mengambil re siko.(10) Berani dalam pendirian dan keya kinan (SC. Utami M, 2004: 31).

Sedangkan ciri-ciri aktivitas menurut Conny Semiawan, dkk (1994: 29) dorongan ingin tahu besar; sering mengajukan perta nyaan yang baik; memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah; bebas dalam menyatakan pendapat; menonjol dalam salah satu bidang seni; mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain; daya imajinasi kuat; orisinalitas tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya serta menggunakan cara-cara orisinal dalam peme cahan masalah); dapat bekerja sendiri; dan se nang mencoba hal-hal yang baru.

Kemampuan cerdas dan kreatif peserta di dik tidak hanya menerima informasi dari gu ru, namun peserta didik akan berusaha men cari dan menemukan informasi dalam proses pembelajaran. Kemampuan kreatif akan men dorong peserta didik merasa memiliki harga diri, kebanggaan dan kehidupan yang lebih dinamis.

Aktivitas mempunyai hubungan erat de ngan kepribadian seseorang. Pengembangan kemampuan kreatif akan mempengaruhi pa da sikap mental atau kepribadian seseo rang. Siswa yang kreatif akan memiliki kepribadi an yang lebih integratif, mandiri, luwes dan percaya diri.

Meskipun aktivitas merupakan konsep yang pengertiannya sangat kompleks, mengi dentifikasi ciri-ciri aktivitas pada diri sese orang siswa, sedikitnya dapat membantu me ngenal bagaimana sebenarnya seorang siswa yang kreatif itu. Adapun ciri-ciri siswa kreatif adalah seba gai berkut: (1) Memiliki rasa ingin tahu yang mendalam. (2) Memberikan banyak gagasan, usul-usul terhadap suatu masalah. (3) Mam pu menyatakan pendapat secara spontas dan tidak malu-malu. (4) Mempunyai rasa kein dahan. (5) Menonjol dalam satu atau lebih bidang studi. (6) Dapat mencari pemecaha(7) Mempunyai rasa humor. (8) Mempunyai daya imaginasi (misalnya memikirkan hal-hal baru dan tidak biasa). (9) Mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain. (10) Kelancaran dalam meng hasilkan bermacam-macam gagasan. (11) Mampu menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang (Reni AH, 2001: 5).

Ciri-ciri kepribadian kreatif, diantaranya:

1)      Mempunyai daya imajinasi yang kuat

2)      Mempunyai inisiatif

3)      Mempunyai minat yang luas

4)      Mempunyai kebebasan dalam berpikir

5)      Bersifat ingin tahu

6)      Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru

7)      Mempunyai kepercayaan diri yang kuat

8)      Penuh semangat

9)      Berani mengambil resiko

10)  Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakiknan (Munandar, 2004: 97).

Walaupun ada perbedaan cara pengungkapan pendapat para ahli tersebut di atas namun pada prinsipnya tidak jauh berbeda. Dari beberapa pendapat tersebut pada prinsipnya bahwa ciri-ciri perilaku yang ditemukan pada orang-orang yang memberikan sumbangan kreatif yang menonjol adalah berani dalam pendirian/keyakinan, ingin tahu yang besar, mandiri dalam berpikir, ulet, dan mempunyai kepercayaan diri yang kuat. Perilaku atau cirri-ciri kepribadian krearif tersebut di atas sangat diinginkan oleh pendidik terhadap para siswa dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar dan mencapai tujuan pembelajaran.

Proses Kreatif

Melalui pro ses kreatif yang berlangsung dalam benak orang atau sekelompok orang, produk kreatif tercipta. Produk itu sendiri sangat beragam, mulai dari penemuan mekanis, proses kimia baru, solusi baru atau pernyataan baru mengenai sesuatu masalah dalam matematika dan ilmu pengetahuan; komposisi musik yang segar, puisi cerita pendek atau novel yang menggugah yang belum pernah ditulis sebelumnya; lukisan dengan sudut pandang yang baru; seni patung atau fotografi yang belum ada sebelumnya; sampai dengan terobosan dalam aturan hukum agama, pandangan filsafat, atau pola perilaku baru (Desmita, 2006: 176). Dalam semua bentuk produk kreatif, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang menandai produk atau

proses kreatif adalah:

1)      Produk yang sifatnya baru sama sekali yang sebelumnya belum ada

2)      Dalam semua bentuk produk kreatif, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang menandai produk atau proses kreatif Menurut Nashori & Mucharam (2002: 95)

3)      Sifat-sifat baru yang merupakan ciri produk dan proses kreatif adalah: Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya.

4)      Suatu produk yang bersifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada.

 

Referensi:

Anna Poedjiadi. 2007. Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Remaja Rosdakarya
Burden Paul R. & David M. Byrd. 1999. Nethods of Effective Teaching. Massachusset: Allyn & Bacon
H.B. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Sebelas Maret University Press
Hidayati, Mujinem dan Anwar Senen. 2008. Pengembangan Pendidikan IPS SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Iskandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung Persada Press
Joyce Bruce dan Marsha Weil. 1980. Models of Teaching. New Jersey: Prenrice Hall
Knap, Linda R and Glenn, Allen D. 1996. Restructuring School with Technology. Washington: A Simon and Schuster companny.
La Maronta Galib. 2002. Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains Di Sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 034.
Law Soe and Derek Glover. 2000. Educational Leadership and Learning (Practice, Policy on Research). Philadelphia: Open Univercity Press
Lefrancois, Guy R. 1994. Psychology for Teaching. New Jersey: Wadswort
M. Furqon Hidayatullah. 2009. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat Dan
Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Nita Andara dan Gugus S. 2008. Jurnal Wawasan Pendidikan dan Pembelajaran: Peningkatan Aktivitas Siswa Belajar Fisika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Tutor Sebaya. Sumatera Barat: Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) volume 3, No. 2 bulan Juli 2008 halaman 133-146.
Oemar Hamalik. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Penn State. 2008. Macam-macam Pendekatan. http://idahariyanti.student. fkip.uns.ac.id/files/2009/…/SBM-TGL-7.docx diakses tanggal 26 Februari 2010
Prayekti. 2002. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan: Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat tentang Konsep Pesawat Sederhana dalam Pembelajaran IPA di Kelas 5 Sekolah Dasar. 039, 773-783. Jakarta: Badan Penelitian dan Kebudayaan, Departemen Pendidikan Nasional.
Rury Rachmani. 2007. Pengaruh Kemampuan Numerik, Kemampuan Logika Abstrak dan Aktivitas Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMA 1 Jepon. Surakarta: UNS (Skripsi Tidak Dipublikasikan)
Rusmansyah & Irhasyuryana. 2003. Implementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Kimia di SMU Negeri Kota Banjarmasin. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 040, 95-109
Sanapiah Faisal. 1981. Dasar dan Teknik Menyusun Angket. Surabaya: Usaha Nasional
Sardiman, A.M. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Srini M Iskandar. 2001. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: C.V Maulana
Suwarno dan Hotimah 2009. Serba Tahu Tentang Sains Ilmu Pengetahuan Alam. Yogyakarta: Tugu
Suyitno Al. 1995. Cakrawala Pendidikan: Karakteristik IPA dan Konsekuensi Pembelajarannya Bagi Siswa Sekolah Dasar. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta
Tabrani Rusyan. 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Uswatun Khasanah. 2007. Pengaruh Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa. Surakarta: UNS (Skripsi Tidak Dipublikasikan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s